Allah Maha Baik

Tuesday, September 20, 2016

Birmingham: I am coming

Fly to Birmingham

Setelah penantian yang tak kunjung berakhir, visa UK datang juga ditanggal yang udah mepet dengan rencana keberangkatan. Alhasil, rencana berangkat lebih awal jadi batal dan diundur hingga tanggal 17 September. Pilah pilih maskapai berujung pada Emirates Airlines dengan asumsi akan mampir ke bandara tersibuk dan lagi in nya yakni Dubai, hehe sebenarnya berharap bisa melirik El Burj atau tower-tower setinggi lainnya. Penerbangan ini memakan waktu kurang lebih 18 hours dari jakarta, belum termasuk nunggu selama transit. Kalau biasanya penerbangan domestik terbiasa dan ehm membudaya dengan "delay" nya, maskapai yang saya pilih ini cukup teliti soal waktu. Terjadwal 17.55, dari 45 menit sebelumnya kita udah mulai diatur masuk pesawat berdasarkan zona tempat duduk, terkecuali bagi first class dan business class yang jelas-jelas dapat posisi aman dan terdepan. Eh iya, pas baca peraturannya, telat masuk ruang tunggu 20 menit sebelum terbang itu udah ditinggal pesawat, gila euy lumayan juga kalau belasan juta angus gegara teledor waktu.

On Flight

Over all perjalanan kemaren itu "exhausted", ya iyalah secara duduk berjam-jam, tidur dengan leher ngikutin bentuk kursi itu sungguh menyiksa. Ditambah lagi beberapa hari sebelum keberangkatan malah sibuk ngurus ini itu dan jalan sana sini hingga energi yang tersisa rasanya makin tipis. Berasa banget badan kayak dilempar, ditinju sama ngilu-ngilu masuk angin. Dingin? I say NO. Pertama, emang setting AC nya diatas rata-rata, kedua jaket tebal sempurna menyisihkan selimut yang tersedia. Well, untuk menghibur diri sebenarnya lumayan karena disajikan tontonan yang lumayan update walaupun sebagian besar udah pernah ditonton. Penerbangan Jakarta-Dubai cuma berhasil nonton Filosofi Kopi yang ga sempat ditonton di IndonesiA. Itu doang,sisanya kalap tidur sambil dengar lagu-lagunya Rihanna, hoho bahkan R n B nggak sanggup mengalahkan rayuan mata untuk terlelap. Penerbangan kedua lumayan melek dengan nonton Infinite sama Me Before You yang masuk list most recent movies katanya, terus tertidur lagi dengan diiringi lagu-lagunya Charlie Puth...one called away..nananana

Foods

Makanannya dari skala 1-10, 8 deh. Pasmau terbang dikasih brosur menu yang isisnya makanan apa saja yang akan disajikan. Yang bikin super lega itu ya dibawahnya ada tulisan "semua makanan yang disajikan halal...bla bla bla", so nggak khawatir. Sekarang tinggal pilih main course nya yang ada dua pilihan. Pas dinner, pilihan jatuh pada fish...Fillet ikan dori sama ada nasinya yang membuat jatuh hati. Soalnya yang chicken itu pakai kentang which means kurang kenyang, nah loh masih aja. terus pas transit, ada meal voucher yang bisa ditukar sama makanan di outlet yang ada di list. Awalnya minat ke resto Thailand yang seafood dan segala macamnya dengan harapan ada nasi dan bumbunya berasa, tapi berhubung mata belum bisa diajak kompromi, secara sampai Dubai jam setengah 2 pagi waktu setempat, akhirnya pilihan jatuh ke resto Italia yang deket untuk nyeret kaki. Dan jeng jeng ada pizza, dengan semangat langsung order pizza pepperoni dan ternyata ukurannya jumbo...hmmmm pas liat penampakannya okelah, namun pas gigitan pertama udah ilfeel dengan rasa dagingnya yang masih amis banget, prediksiku itu daging lembu atau kambing gitu, so terpaksa dibuang setelah potongan pertama buat mengganjal perut. Di flight berikutnya, brekafast, lumayan dapat ommelet jamur apa gitu, meski sayur ubi tumbuknya berasa aneh. Eh iya, setiap makanan tersebut ada side dishnya, dari mulai appetizer, dessert, sama single bite nya. 

Birmi: ISAS Fellow
Sesampai Birmi yang sangat sesuai dengan jadwal, kami malah tertahan di imigrasi yang antriannya mengular. Most of them bermata sipit, hehe, sempat nyari-nyari orang Indonesia dan cuma ketemu satu orang yang ngobrol nanya ini itu. Antrinya berlangsung sampai sejam hingga jam 9 lebih baru keluar dari bandara dan udah melihat mahasiswa-mahasiswa berbaju biru yang jadi tambatan jiwa untuk menyelamatkan hingga rumah. Mereka dari International Student Advisory Service yang bertugas membantu mahasiswa baru untuk mengenal kampus. Diawal sempat takut mereka malah tidak ditempat padajam yang ditentukan, service ini hanya bisa digunakan dengan order via online terlebih dahulu, ternyata mereka sangat helpful dan baik hati, hehe koper yang berat nggak ketulungan aja diangkatin sama mas-mas bermuka Harry Potter semua..*blussed. Collecting point bus yang membawa international students ada tiga yakni The Vale, Jarrat Hall dan satu lagi kurang tahu karena turun di yang kedua. Berhubung alamat rumah agak jauh, salah satu Harry Potter mengorder taksi via phone dan ngajakin ngobrol selagi nunggu. Hmm tak lama muncullah sopir taksi yangbaik sekali karena menerima pecahan 50 pounds untuk bayar 4.5 pounds saja, gila banget. Finally, jam 12 waktu Birmi saya sampai ke rumah dengan selamat, bahagia tetapi lelah plus ngantuk.

No comments:

Post a Comment