Menikah itu sesuatu, mulai dari bangun tidur kaget ada orang di sebelah hingga melakukan banyak hal yang biasanya sendiri jadi berdua. Ada banyak cerita baru, kejutan hidup yang mejikuhibiniu...
Saat menikmati masa bersama dihebohkan dengan datangnya nikmat lain dari Allah, Allah selalu maha baik. Kita yang lagi sibuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan ajaib masing-masing dipercaya untuk bersiap diri menjadi orang tua...rasanya kayak tuaaaaa yah padahal masih suka ngaku muda gitu :D
Bab kedua kehidupan, being pregnant... Dimulai dari spekulasi, menduga-duga rasa tak percaya, kemudian menelpon keempat orang tua dengan malu-malu memilah kata, akhirnya diikuti seruan alhamdulillah sekaligus beragam petuah dari kedua ibu di seberang sana. Berita menyebar dengan lambat karena sengaja, karena masih ragu padahal udah ke bidan, ucapan selamat dari adik-adik ipar yang cantik, hingga ibu kos, dst dst.
Fase pertama dilalui dengan mudah, browsing macam-macam info, beli buku panduan hinga diberi hadiah gadget lucu oleh suami biar lebih mudah cari informasi katanya. Ke pasar bareng ibunda mertua, dibelikan sayur ini itu, buah macam-macam plus wejangan biar hati-hati biar bisa melalui trimester peryama dengan mudah. Senang sekaligus bingung, ini nyata ga sih?
Bersyukur sekali diberi kemudahan, makan lancar, kerja lancar, evetything was running smoothly.
Fase kedua, berasa hamil banget, ujiannya berrraaaaat. Dimulai dari muntah ga berhenti, badan super duper lemas, pengen bobo all the time, kerjaaan bye bye. Beberapa kali ijin hingga suami pun pontang panting, ikutan ga masuk kerja. Ibu dan ayah mertua datang bergantian because I can't even eat a spoon of rice. Thanks God everyone is so nice. Sekarang tubuh nampaknya masih menyesuaikan diri, terakhir ke dokter kandungan udah bisa liat bayinya yang masih sangat imut sekali berdetak jantungnya, subhanallah. Dibilang sulit, emang sulit banget fase ini, berdoa panjang-panjang biar terlewati dengan baik meski tertatih. Jadi mikir dan sempat bercanda dengan ibunda tercinta betapa sulitnya jadi ibu, tidak hanya minggu tapi sembilan bulan lamanya harus menanggung beragam ujian karena hadirnya buah hati tercinta.
Sekarang sudah mulai berkenalan dengan macam-macam vitamin yang jadi wajib dikonsumsi, harus jaga asupan yang masuk ke tubuh, harus lebih rajin ngaji (setelah riset bersama suami suara al-quran tetap memberi stimulasi lebih baik dibanding musik klasik, meski suami juga sudah mendonlot musik klasik yang bikin ngantuk..weh).
*Bisa ga yah liburan datang lebih cepat? Harusnya kita kan ke Lombok suamiku? :D
Don't: - force others to think like the way you do. - hope too much and expect a lot, especially from something/ someone that even you don't know that well. - struggle that hard for stuffs that won't lead you to neither heaven nor happiness. Do: - be positive, for being older is a must, you don't wanna be old and annoying on your own uh? - be grateful for every single thing Allah has presented to your life, keep the good one and eradicate the bad one.
Thursday, May 29, 2014
Saturday, May 17, 2014
Grand Final Bujang Dayang 2014
Here I am, sitting among the juries of Bujang Dayang Belitung Timur. I told you, this is a new contest to be watched this close.
Ask me how do I feel? Nervous... :D How come? Well, this is a late night show while I should watch all the things carefully, not being relax... Like staying in my room, watching in my casual costume :)
So, yeah I am here looking for the best couple on stage. Let me dhow you some interesting pictures
This lavish program is sponsored by East Belitung Tourism Office. The judgement has been done since the first time all these finalists entered the quarantine. Tonight they are scored by looking some aspects, grooming, public speaking, and knowledge.
I find it is so serious at first, but fun at the end. Glad to know that all the candidates are nervous so some of them answered the questions incorrectly. I see them as teens then. But, u know everyone is nervous and anxious when it comes to show themselves in front of public. I m not the exception anyway.
It's done already. The winners have been decided. It's decided by looking at the first glance and one question only. Actually I have preferred many better questions...*sigh. If you ask me which do I prefer from my recent activities? I love being a speaker, that's more challenging.
Ask me how do I feel? Nervous... :D How come? Well, this is a late night show while I should watch all the things carefully, not being relax... Like staying in my room, watching in my casual costume :)
So, yeah I am here looking for the best couple on stage. Let me dhow you some interesting pictures
This lavish program is sponsored by East Belitung Tourism Office. The judgement has been done since the first time all these finalists entered the quarantine. Tonight they are scored by looking some aspects, grooming, public speaking, and knowledge.
I find it is so serious at first, but fun at the end. Glad to know that all the candidates are nervous so some of them answered the questions incorrectly. I see them as teens then. But, u know everyone is nervous and anxious when it comes to show themselves in front of public. I m not the exception anyway.
It's done already. The winners have been decided. It's decided by looking at the first glance and one question only. Actually I have preferred many better questions...*sigh. If you ask me which do I prefer from my recent activities? I love being a speaker, that's more challenging.
Thursday, May 15, 2014
Bujang Dayang Beltim: A Presentation
I was quite shocked when a friend of mine called me to be the speaker for this kind of contest. Well, i have become the juries of debate, story telling or speech, but for beauty contest, that's something new.
Today was the first step. I was a bit nervous at first, thinking what should i say in such occasion. Well, since the class isn't about beauty itself, so I made it. Preparing materials by reopening many books. Hello, I've been too long sticking with the same books, or let's say I am just so picky recently, reading similar genre for the purpose is only entertaining myself.
Let's go back. I made the presentation only in a shiny afternoon, around three hours focus. See, it's not that hard actually. Then, yeah I need to practise somehow. Isn't it making a lot of differences? So, as I said before I read for digging more information about the content of my presentation.
I arrived at the hotel exactly at 3.30. The committee asked to come at that time. But the previous speaker was still there, so I needed to wait for a half an hour. I found those finalist of the contest. The two of them will be the ambassador of tourism for this island. As you know, they are all young, beautiful, tall, and smart. Love to see them :)
So, at 4 I started my part, asking them to learn English in a fun way. Having fun is mostly my priority in delivering my idea :p. I thought it would be though, but what a relief they are more than better. Some of them are actively involved while some are listening, I hope that means they get what I meant. Two hours is not enough, we need more but the day is almost over. I wish they can follow the idea when they come to the final night :)
*Thanks for the pointer my lovely husband, I could move everywhere I wanted ({})
Tuesday, May 13, 2014
Pandailah memilah rasa
Tidak ada yang bisa memaksa rasa. Beda dengan masakan yang bisa diramu sesuai selera, perasaan manusia tidaklah semudah itu. Rumit, jika ya memang ingin dibuat rumit.
Rasa, entahkah itu cinta, sedih, senang, cemburu, sayang, benci, tidak bisa dikarang. Mungkin ada tipe orang yang ahli berpura-pura. Bertahan dalam rasa yang dikarang padahal ia sama sekali tak begitu. Atau seolah menjaga padahal ia sedang berpaling jauh dari rasa yang sedang berkecamuk dalam dirinya. Yang lebih hebat lagi, perasaan manusia juga tidak tertentu satu, dalam bimbang ia bisa merasa puluhan secara bersamaan, ah pelik. Tapi sepandai-pandainya ahli, ia akan tetap terkalahkan oleh sifat manusianya yang takkan bertahan lama bermuka dua. Prinsipnya manusia akan mengekspresikan apapun sesuai dengan apa yang ia rasa.
Paksaan atau serangan apapun yang dilancarkan untuk mengubah rasa A menjadi B akan membutuhan usaha yang tidak main-main. Manusia bukan komputer yang bisa mudah dikendalikan oleh serangkaian instruksi atau program yang juga bisa diubah dengan mudah. Manusia jauh lebih kompleks. Jadi, bagi yang berniat memaksa maka menyerahlah. Biarkan rasa menemukan caranya sendiri untuk kemudian muncul di kemudian hari. Apapun kemelut rasa, pilihlah untuk brbahagia karena tanpa diinginkan, waktu akan terus berjalan memakan usia.
*Renungan di lab Bahasa
Paksaan atau serangan apapun yang dilancarkan untuk mengubah rasa A menjadi B akan membutuhan usaha yang tidak main-main. Manusia bukan komputer yang bisa mudah dikendalikan oleh serangkaian instruksi atau program yang juga bisa diubah dengan mudah. Manusia jauh lebih kompleks. Jadi, bagi yang berniat memaksa maka menyerahlah. Biarkan rasa menemukan caranya sendiri untuk kemudian muncul di kemudian hari. Apapun kemelut rasa, pilihlah untuk brbahagia karena tanpa diinginkan, waktu akan terus berjalan memakan usia.
*Renungan di lab Bahasa
Monday, April 14, 2014
Bogor: We are in love ({})
Dari sederet nama JABODETABEK, Bogor menjadi satu-satunya kota yang belum pernah saya kunjungi, mungkin belum jodohkah? Atau menunggu saat yang tepat? :D, semua akan menyenangkan ketika datang disaat yang tepat. Ah, berbicara tentang ketepatan, sekarang sudah tidak perlu lagi menghibur diri dengan kalimat "saya hanya harus menunggu orang yang tepat, di saat yang tepat", Allah sudah berbaik hati menjawab masa penantian panjang yang penuh rasa hingga dua minggu lalu.
Bogor, tidak pernah mencetak memori khusus bagi kehidupan saya yang lumayan lama ini. Ia menjadi kota yang ingin saya kunjungi karena ada banyak stroberi layaknya Bandung. Tapi, Bandung saja tidak cukup rupanya. Waktu memberi ruang bagi saya menikmati sejuknya kota ini bersama seseorang yang punya kesan mendalam karena ia tumbuh, berkembang, merasa, mungkin juga pernah menghampa, but, its the city of memory.
Perjalanan tanpa rencana membuat hari terasa singkat. Bogor, jika boleh kubandingkan dengan beragam kota yang pernah kukunjungi, mirip Bengkulu. Ntahlah, apa karena angkot yang berkeliaran banyak berwarna hijau, atau cuacanya? (Padahal jelas berbeda)... Like I have ever been here before. It's just too familiar. Tentu misi utama adalah menjajaki langkah-langkah penuh semangat hingga bisa menimbulkan semangat baru kedepannya dalam membina hidup baru. Lalu yang tak kalah penting adalah mencari stroberi, karena langkanya buah ini di pulau kami yang gersang.
Banyak doa terjawab ketika tidak ada kecendrungan memaksa. Subhanallah, alhamdulillah ternyata mengeksplorasi tempat baru dengan seseorang yang berarti itu luar biasa. Sepertinya petualangan sebatang kara berakhir sejak bulan lalu. Oh ya, film 3D ternyata keren, setidaknya dari kacamata saya yang hitam saat itu, film Captain America menjadi luar biasa. Apa ini terjadi sebab yang pertama? Atau suasananya? Atau karena dinginnya air dan udara di Kota Hujan? It's fun for a while, it'll be forever we're in love.
Saturday, February 22, 2014
Art Session
Insomnia membawaku pada laman ini kemudian mengingatkan minggu-minggu dengan aktivitas baru. Masih dengan rutinitas namun diselingi jeda bertabur nada, not balok, not angka dan sejenisnya. Yah, kelas musik, terminologi baru bertaburan dimana-mana, aturan nada juga jenis suara, alto, sopran, bass, atau tenor. Kelas beberapa jam dengan materi memusingkan tapi menyenangkan, betapa tidak, it's fun, enjoyable and sssst the teacher is really good looking and single :D
Mencatat beberapa lembar saja membuat saya pusing, ada banyak tanda (walau kata gurunya sedikit), ada berbagai lambang yang harus diingat. Dan yang pasti mereka sangat berguna, layaknya not angka, not balok juga tidak bisa dikesampingkan, ntahkah itu untuk menjadi penyanyi atau juga menjadi komposer. Well, well, saya bukan mau menjadi keduanya, namun profesi dadakan membuat saya harus mencemplungkan diri secara sukarela ke dalam dunia yang menurut saya memang menyenangkan. Basically, I always love music.
Lembaran partitur yang jelas masih belum bisa saya mengerti sepenuhnya (baru beberapa pam-pam-parampam dan begitulah) membawa saya pada sebuah kesadaran lama yang terpendam oleh cepatnya hari berlalu serta padatnya kegiatan yang tidak memberi ruang pada kontemplasi yang berarti. Yeah beberapa refleksi akhir-akhir ini malah melenceng jauh hingga membawa pada kesimpulan menyesatkan akan kehidupan. Lelah tidak membuat otak dan hati bersinkronisasi dengan benar, they just need rest. Buktinya harus ada demam melanda barulah istirahat diluangkan, cruel. Lagi, kelas sore yang sempat menggeser peran saya kembali menjadi penyimak yang baik membawa saya pada ingatan bahwa ilmu Allah sangatlah kaya. Lihatlah, betapa musik punya komponen yang sangat luas untuk didalami, tidak selalu tentang suara merdu atau juga bakat terpendam tapi ada banyak komponen yang harus dipelajari hingga membuat seseorang bisa dikatakan pemusik andal nan ahli.
Tidak ada celah untuk menyombongkan diri. Meski kadang sebuah keterampilan kecil saja membawa pada bangga yang berlebihan, tapi sebenarnya itu salah, salah yang teramat besar. Bahkan orang ahli dalam banyak bidang sekaligus pun pasti tetap lebih banyak tidak tahunya tentang ilmu lainnya. Tidak ada alasan sombong penuh kemenangan ketika berhasil memperoleh juga mengaplikasikan ilmu yang dimiliki pada kehidupan, karena masih banyak sekali ilmu Allah lainnya yang bertebaran dan harusnya menjadikan diri ini sadar bahwa belajar memang seharusnya sepanjang hayat. Kadang jika membaca long life learning itu hanya seperti sebuah teori usang yang kurang peminat. Betapa mudah ditemukan murid yang sedikit mengalami kesulitan langsung menyerah dan berhenti belajar, Atau juga gurunya yang merasa sudah oke punya hingga menutup diri dari menggali ilmu yang lebih dalam, lebih banyak tentang berbagai hal. Juga profesi lain, yang seringkali ditemui merasa cukup hingga seolah ringan menutup buku dan cuek pada ilmu-ilmu yang berserakan.
Keep learning, doing and moving forward.
Monday, February 17, 2014
Buruh di Negeri Sendiri
Perjalanan kemarin membawaku pada kesimpulan bahwa banyak rakyat Indonesia yang bisa dikatakan tuan rumah menjadi buruh di negerinya yang kaya ini.
Sepanjang jalan yang kulihat adalah pohon-pohon sawit yang jika kuperkirakan dengan ilmu kira-kira sudah berusia puluhan tahun, tampak dari pohon-pohon yang tinggi menjulang serta beberapa terlihat tidak produktif lagi. Aku baru tahu kalau pohon sawit bisa hidup setinggi itu, kupikir ia hanya seperti pohon salak karena yang sering kuperhatikan dijalan tumbuh pendek-pendek.
Memasuki bagian dalam dari tempat ini membuatku seolah bangun dari mimpi. Tempat ini tampak terlalu berlebihan jika dibandingkan dengan pulau nan cantik ini. Lihat saja tata letak bagi setiap bagian sangatlah apik, lalu masuk ke bagian yang lebih dalam, jalan-jalan nampak teratur seolah membawa ke vila di puncak. Dan yah ada villa juga meski sederhana karena gaya lama serta ada`lapang golf yang menjadi daya tarik ditengah-tengah perkebunan yang sudah mulai beroperasi dari tahun 1995 ini.
Berjumpa dengan bapak yang ditugaskan menyambut kami lagi membuka wawasan baru. Perkebunan ini memiliki luas belasan ribu hektar dengan pabrik terintegrasi yang langsung mengolah bahan baku. Hasil bahan pun tidak dipakai di negeri sendiri melainkan diekspor ke negara-negara Asia Timur, Selatan, dan Afrika. Hasil produksi per harinya mencapai ribuan ton. Saya bertanya-tanya dalam hati, semua ini milik siapa? Lantas diskusi selanjutnya lebih mencengangkan lagi, bahwa seperti perkebunan serupa pada umumnya, perusahaan ini juga milik pengusaha dari negara tetangga. Para insinyur yang baru bertemu saya tadi adalah orang-orang yang bekerja dibawahnya. Okelah untuk teknisi, programmer untuk pengendalian mesin berkomputer dan menggunakan mesin lainnya, tapi bagaimana dengan para buruh? Yang angkut sana, angkut sini? Yang panas melepuh saat memetik hasil panen? Sedangkan pulau ini memang selalu panas, kurasa sebenarnya pulau ini hanya memiliki musim panas sekali dan panas saja hingga wajar jika lama kemudian kulit menjadi sangat Indonesia, sawo matang. Perih karena terlalu matang.
Kembali ke cerita awal, bagaimana tanah seluas ini menjadi surga bagi pemiliknya, atau pemilik sebagian atau kepala-kepala divisi yang agak tinggi jabatannya. Kenapa jika sebuah tempat publik itu bagus kualitasnya, entahkah perusahaan, entahkah rumah sakit, entahkah sekolah, haruslah milik asing? Menjadi buruh di negeri sendiri seakan sudah menjadi kebiasaan yang lumrah, begitukah? Kutanya pada lapangan golf yang menawan, ia tersenyum, diam.
Subscribe to:
Posts (Atom)



