Allah Maha Baik
Showing posts with label Novel-2an. Show all posts
Showing posts with label Novel-2an. Show all posts

Tuesday, November 5, 2013

Mati Rasa

Mati rasa...

Jika rasa ada berbagai rupa dan warna, aku kehilangan itu. Aku kehilangan saat bergairah mendebarkan berjumpa denganmu, atau detik-detik pertemuan mengharukan yang biasanya kupersiapkan pelan-pelan demi sempurnanya diriku berjumpa denganmu. Aku tak tahu kemana perginya rasa rindu, rindu kala kau pergi jauh, rindu kala angin berhenti menyapaku sementara kau sibuk mengalahkan waktu disuatu tempat yang tak mungkin kudatangi. Aku berhenti merasa lelah, lelah akan suara tawamu, atau keluh kesah yang kau lontarkan saat kau runyam ditengah kesibukan duniawi yang kau junjung atas nama kita.

Aku tak pernah tahu kapan ini bermula. Aku tak menyangkal bahwa manusia punya rasa bosan, jengah, atau butuh waktu untuk berhenti sejenak disaat laju kita terasa hambar, terasa pelan, beranjak lamat-lamat. Tapi aku tak pernah bosan, kubisikkan bahkan kunyatakan dengan lantang (tidak didepanmu sayangnya) bahwa aku selalu ada, selalu mencinta, selalu menunggu detik-detik bersama yang sesungguhnya tiba. Tapi, entahkah ini nyata ataukah sementara tapi aku mati rasa.

Sungguh, aku ingin kembali berirama, menari riang dalam nada yang sama, dalam getaran yang sama, kita selalu menyebut itu "resonansi", ah ya itu. Tapi, hadirmu tak lagi membawa pelangi, resahmu tak lagi membawa kelam dalam duniaku, semua terasa hambar, bahkan bening, tenang, namun mengerikan. Ada yang berbisik bahwa rasa adalah sesuatu yang fluktuatif, yang bisa berubah tapi tetap bisa diarahkan, diluruskan jalannya saat berada pada belokan yang salah. Frekuensi pertemuan tak memberi pengaruh, ini bukan tentang sesuatu yang fisik seperti itu, aku tetap suka bersamamu, meyakinkan diriku bahwa kamu baik-baik saja, tapi sisanya...lengang.

Aku tak ingin mengirim maaf pun juga memintamu melakukan hal-hal terduga atau tidak dengan apa yang terjadi padaku. Biarkan rasa itu tumbuh kembali bahkan lebih dari sebelum ini dengan sendirinya.



Tuesday, June 25, 2013

Episode 3: Wanita dan Surga

Aku masih bertanya-tanya kenapa aku datang ke mall besar dan menyebalkan di Palembang ini hanya karena sebuah sms yang berbunyi. "Datanglah, aku butuh nasihatmu wanita bermata rembulan". Weh meski aku sempat tertawa dengan kalimat yang sudah kuhapal nada gombal dan alay nya, aku tahu teman SMA ku ini sedang dilanda galau tingkat akut. Jika tidak, ia tak mungkin menghubungiku. Itulah kenapa aku datang ke tempat yang tak begitu kusukai ini.

"Ini yang keempat kalinya, aku membawa wanita cantik ke rumah dan ditolak oleh ibuku. Kurasa, ibu punya segudang alasan untuk menyatakan ketidaksukaan pada pilihanku." Katanya dengan muka super serius yang tak pernah kulihat sebelumnya.

Aku tersenyum, bingung, "Apa kata ibumu?"

"Ibu hanya sekilas melihat mereka dan berkata tidak cocok. Entah darimananya, jika kutanya ibu diam saja."

Aku tersenyum lagi, "Kau mencintai wanita itu? Kenapa tidak kau paksakan saja. Well, yah kata orang cinta yang tulus bisa mebabat hambatan apapun. Apalagi ibumu tak mungkin ingin melihatmu menderita. Seperti di film-film, asal kau dan dia gigih pasti ibumu akan luluh.

Dia menghela napas, "Aku sempat berpikir begitu. Tapi kamu tahu prinsipku, wanita adalah surgaku, baik ibu maupun siapapun dia yang jadi istriku nanti.

Glek, aku terdiam karena pernah mendengar ungkapan yang sama tentang wanita dan surga ini dari seorang lelaki. "Aku tak menyangka seorang playboy cap kecap seperti dirimu punya prinsip. Bukannya wanita adalah pelepas dahaga bagi sepimu yang tak kunjung mudah hinggap di satu hati itu."

"Kamu masih menganggapku begitu? Waktu merubahku, win. Aku butuh wanita yang membuatku mulia sekarang dan suatu saat di akhirat kelak." Katanya

"Wah, kau bahkan bicara akhirat sekarang ini." Aku terkekeh. "Aku juga tak mampu memberimu nasihat berharga. Kau lihat sendiri hingga sekarang aku masih berstatus sama, itu artinya aku masih dalam fase berputar di sekitar masalah yang sama denganmu." Jelasku.

"Kau tahu, win? Saat aku sangat mencintai seseorang, aku ingin ibuku juga mencintai wanitaku. Meski aku dan ibu jarang bicara karena jarak, tapi ibu tetaplah ibu. Lihatlah dulu aku yang sangat tidak menghargai keberadaan ayah hingga Tuhan mengambilnya dariku. Meninggalkan aku dan ibu dengan bebagai himpitan sosial, finansial. Ah, win, bagaimana mungkin aku mengecewakan ibuku yang tinggal satu-satunya. Tak pernah ibu terlihat bahagia selain saat aku menceritakan tentang kamu win. Dia masih terlalu serius menurutku.

"Hei, apa maksud akhir kalimat itu? Itu bukan rayuan kacang campur gula merah alias rujak kan?" Aku tertawa.

"Haha, wanita sepertimu hanya pantas dimintai nasihat atau dijadikan iostri, win, tak layak mendapat kata-kata pemanis suasana saja, percayalah padaku." Katanya lagi, kali ini tersenyum.

"Cobalah jelaskan dengan lebih lembut pada ibumu atau ajak wanitamu untuk bersama mendekati ibumu. Jika kali ini cintamu berlabuh pada tempat yang benar maka akan ada titik terangnya. Tak ada satupun hubungan cinta yang mulus-mulus saja, pasti ada badai, jika kalian berdua kuat tentu badai jenis apapun bisa terlewati. Kataku ragu dengan ucapanku sendiri.

"Ada apa? kata-katamu ada benarnya." Dia menyambut.

"Sudah kukatakan, aku bahkan masih berputar pada ranah yang sama denganmu. Kalau dirasa ada benarnya coba saja."Tukasku ringan.

Tidak ada yang persis tahu cara menerjemahkan kepantasan dan keadilan Tuhan. Jika dilihat dari pasangan suami istri yang sudah ada, ada yang dengan mudah dilihat titik samanya, ada yang sulit, tak terbaca. Tuhan yang benar-benar tahu dan punya kuasa untuk menyatukan siapa dengan siapa. Tuhan yang maha tahu atas niat yang terbaca di hati manusia dan bagaimana seseorang berjuang layak atau tidak untuk orang lainnya. Secara kasat mata, manusia kadang bisa dengan mudah menilai bahwa ia cocok dengan ia, padahal tidak ataupun sebaliknya. Let Allah does something you can't conquer.

*Bisikan di hari Sabtu, 11 p.m. Palembang Indah Mall.




Saturday, May 25, 2013

Galau itu Bernama "Sendiri"

“Tahajud, nia. Bersyukur atas rahmat yang dilimpahkan Allah padamu hingga usia 35 tahun ini. Doa ibu selalu bersamamu.”
Sebuah sms membangunkan tidurku tepat pukul tiga pagi. Untuk kesekian kalinya aku tak bisa tersenyum saat ulang tahunku tiba. Bukan, bukan karena minimnya ucapan atau hadiah pada hari ini. Semua lengkap, semua masih sama dan disitulah letak kurangnya. Sejak sepuluh tahun silam, aku deg-degan menyambut hari bertambah tuanya diriku, karena satu keinginan yang tak kunjung tiba.
Aku tak tahu, kurasa ketidaknyamanan yang melandaku, kian bertambah kian hari, disebabkan oleh kurangnya diri ini bersyukur. Manusia cenderung menghitung dan mengingat apa yang belum didapat dan mengabaikan pencapaian apapun yang telah dianugerahkan Tuhan. Begitupun aku. Kurasa aku cukup mapan dalam memahami teori ini, namun sejak sepuluh tahun silam, sejak lamaran yang dinanti-nanti tak kunjung datang, aku tanpa sengaja dan akhirnya mendoktrin diri dengan kurangnya satu poin ini dalam kehidupanku.
Tania Florensia. Tak ada yang tak mengenalku saat kuliah hingga bekerja. Aku tak hanya menyelesaikan pendidikan akademikku dengan gemilang tapi juga membuktikan diri dengan karir yang kucapai. Dari segi fisik, tak ada yang menilaiku buruk. Aku dikenal aktif beragam organisasi, terlibat ini itu. Keluargaku sempurna, dilipahi kasih sayang juga kecukupan materi. Aku juga punya banyak sahabat, tak hanya di dunia nyata, tapi juga yang jaraknya ribuan mil di seberang sana. Aku selalu ceria. Bukankah hidup terlalu singkat jika harus diisi dengan menyakiti diri sendiri?
Hingga usiaku 25, aku mulai cemas karena aku sangat membatasi diri bergaul dengan pria. Aku punya banyak teman, tapi hanya berhenti disitu. Pernah salah seorang teman berbicara saat reuni betapa ia menyesal telah menyia-nyiakan masa kuliahnya dengan mendekati banyak wanita dan ingin sepertiku, aku malah menjawab sebaliknya. Mungkin aku harusnya tidak membatasi diri hingga aku bisa menikah tepat pada waktunya sepertimu. Temanku tersenyum kecut.
Sejak itu, aku mulai harap-harap cemas menanti. Bukankah matahari tak pernah ingkar janji? Apalagi penciptanya yang telah berjanji memberikan pasangan pada setiap makhluknya. Aku setia pada janji itu. Aku menunggu, masih sangat berpegang pada prinsip, masih sangat yakin. Tapi hari ini, di usiaku yang setua ini, teman-teman seangkatanku sudah punya anak dua hingga tiga. Gundah, gulana, galau, atau apapun itu datang setiap harinya, tak terbendung. Aku sering menangisi diriku sendiri. Menangisi nikmat yang tak kunjung bisa kuraih karena untuk itu aku tak bisa mengandalkan kekuatan sendiri. Ada banyak pihak yang terlibat, ada yang harus terlibat. Aku tetap berbaik sangka, meski hati ini, hati ini remuk.

Aku yakin tidak ada wanita mungkin juga pria yang menyukai ide menghabiskan hidupnya sendiri meski pada faktanya banyak juga yang berakhir demikian. Tapi aku, aku bukan bagian dari mereka. Aku ingin hidup yang bahagia, meski ada juga yang bilang kebahagiaan tidak melulu soal menikah dan berkeluarga. Aku hanya ingin hidup normal, seperti orang lain pada umumnya.

Wednesday, April 17, 2013

Episode 2: Wanita Pencemburu


Sebenarnya tidak bisa dikatakan aku bisa mengelompokkan jenis-jenis wanita yang kutemui hanya pada satu sifat saja. Ini hanyalah deskripsi dari beberapa sifat yang dominan pada wanita-wanita yang kutemui.
Tak kusangka cemburu bisa menjadi sesuatu yang mengerikan jika dilakukan berlebihan atau dibiarkan berlarut-larut, ia bagaikan zat kimia beracun yang menggerogoti jiwa pelakunya. Adalah seorang temanku yang malang merasakan rasa ciptaan Tuhan yang satu ini, namun hampir masuk dalam tahapan akut karena ia hampir gila dan mau bunuh diri karena cemburu. Ia wanita lembut namun siapa menyangka setelah jatuh cinta ia menjadi begitu aneh bin ajaib menurutku. Hal yang patut disayangkan ialah ia cemburu pada seseorang yang belum menjadi miliknya, atau bahkan tidak pernah ditakdirkan menjadi miliknya. Sungguh kasihan, ia tipe wanita pencemburu yang tidak sama sekali menyakiti orang lain apalagi orang yang katanya sangat ia sayangi, ia malah terus menerus menyakiti dirinya sendiri. Sudah kukatakan bukan, ia sebenarnya wanita yang baik.

Aku bingung sebenarnya perkara cemburu ini, bukankah kita tidak pernah bisa menilai dengan adil dan objektif jika belum merasakan sendiri. Tapi aku sangat merasakan kasihan yang mendalam pada temanku ini, karena saat-saat cemburu merupakan saat teramat sulit baginya. Aku tidak bisa mengatakan apakah ia beruntung atau justru sebaliknya mencinta seseorang yang juga mencintainya. Seseorang yang banyak membantunya dan mengilhaminya dalam banyak hal. Tapi, diakhir baru diketahui bahwa sang pujangga juga mencintai wanita lain jauh bahkan sebelum ia mengenal temanku ini. Setelah tahu, temanku bukannya marah dan meninggalkan lelaki tersebut, tetapi ia terus mengasihani diri dengan meminta lelakinya mencintai dia meski setiap detik ia merasakan cemburu. Cemburu butakah? Ia bercerita padaku betapa ia tidak tenang, merasa curiga setiap harinya karena laki-laki tersebut tidak pernah bisa meyakinkannya bahwa ia sudah tobat nasuha dari mencintai dimana-mana. Kukatakan padanya untuk berhenti, tapi ia tak kuasa menahan cinta katanya yang terlanjur dalam. Ah, ini sangat pelik, keinginan untuk memiliki sekaligus tidak ingin disakiti. Keinginan kuat untuk menyayangi tanpa rasa curiga malah kian hari kian mengobarkan rasa cemburu yang terus mengintai setiap langkah wanita malang ini.

Sudah kukatakan, aku tak paham dengan rasa cemburu yang katanya memang satu paket jika mencintai seseorang. Karena cemburu membuktikan sayang. Benarkah ia jika menyiksa pelakunya? Membuat pelakunya tak enak tidur, tak enak makan bahkan terkadang ingin mengakhiri hidup karena lelah tak terkira. Padahal aku tahu persis temanku adalah wanita baik yang kenal agama, tapi ia sudah pernah mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Bukankah itu mengerikan? Aku sendiri sering bertanya-tanya dalam hati tentang ini, tak terkira berat beban cinta itu jika diletakkan pada orang atau waktu yang salah. Cinta jenis ini hanya bagi orang-orang yang siap  belajar dan siap menderita. 

Monday, April 15, 2013

Episode 1: Wanita Tua


Wanita Tua...yang menyedihkan
Ia adalah seorang wanita tua. Aku biasanya punya rasa simpati, empati atau sejenis itu kepada sesama manusia, apalagi yang berinteraksi denganku. Tapi menghadapi wanita ini, kadang aku kehilangan semua rasa “positif” perikemanusiaan itu.
Ah, ia hanya seorang wanita tua. Wanita tua dalam artian literal, secara umur, secara fisik, secara apapun namanya. Memiliki keluarga, anak, tua secara demikian, tua yang tidak biasa. Aku mencoba melihat sisi baik yang ia tunjukkan, tapi kurasa akhirnya semua sisi baik itu menguap karena tidak sesuai dengan cara wanita ini memperlihatkan kepribadiannya.
Ya, ia wanita tua. Wanita tua yang mulai keriput dan beruban, namun lihatlah kedalam jiwanya, kalau boleh kukatakan, kotor, penuh noda. Sekali lagi kukatakan semua penilaian ini tidak hanya berlandaskan interaksiku dengannya, tapi dari semua yang ia tunjukkan, dari semua pendapat orang yang berhubungan langsung dengannya, sedikit sekali kebaikan, kebaikan yang sedikit yang tak dipandang karena ia pada dasarnya sangat jahat.
Wanita tua, lebih mirip seorang anak yang baru tumbuh remaja terperangkap dalam tubuh orang dewasa. Tua, hanya secara umur. Lihatlah setiap hari apa yang ia lakukan, berusaha membuat orang lain tampak buruk dan dialah yang terbaik. Mencari muka, alias bermuka manis didepan orang tertentu yang bisa membuatnya terlihat bagus diluar. Tapi apa yang sebenarnya dia lakukan? Setiap hari membuat orang lain terlihat buruk, seolah ialah terbaik satu-satunya yang layak diperhitungkan. Tidak, dia lebih buruk dari itu. Mulutnya tidak ikut sekolah, bergunjing setiap harinya, mencari-cari setiap detail kesalahan orang lain agar ia dianggap suci, agar ia dianggap hebat. Padahal semua orang tahu, tahu siapa dia. Wanita tua berhati busuk. Wanita tua yang beribadah tapi egois. Wanita tua yang jauh dari mengerti cara memuliakan manusia lainnya, terutama orang-orang disekitarnya. Wanita tua berparas hitam, hitam sehitam hatinya. Yang suka pamer seolah ia ahli ibadah, tapi tak pernah memberi sedikit pun kepedulian pada tetangganya. Wanita yang egois mengambil setiap keuntungan yang ia bisa tanpa melihat apakah orang lain lebih membutuhkan. Wanita yang tidak pernah memperhatikan apakah kata-kata maupun perbuatannya menyakiti orang lain. Wanita yang asal bicara, asal menyulut keadaan, serba asal. Wanita sok tahu apa-apa padahal ia jauh tertinggal. Wanita yang tak mengajarkan anaknya untuk mengenal orang lain, wanita yang membiarkan anaknya anti-sosial. Wanita tua yang hampir gila karena doa-doa saudaranya yang teraniaya.
Aku heran, kenapa didunia ini ada orang yang sama sekali tidak belajar. Semakin tua namun masih saja bertingkah seperti remaja dalam menghadapi hidup. Aku heran kenapa ada orang yang beribadah tapi terus menerus menyakiti makhluk Tuhan lainnya tapi tetap berdiri pongah dan merasa ia lah yang terbaik.