Don't: - force others to think like the way you do. - hope too much and expect a lot, especially from something/ someone that even you don't know that well. - struggle that hard for stuffs that won't lead you to neither heaven nor happiness. Do: - be positive, for being older is a must, you don't wanna be old and annoying on your own uh? - be grateful for every single thing Allah has presented to your life, keep the good one and eradicate the bad one.
Showing posts with label Fav Books. Show all posts
Showing posts with label Fav Books. Show all posts
Friday, January 1, 2016
Pulang: Sebuah pengingat di awal tahun
Awal tahun yang basah terguyur hujan, deras kemudian diikuti rinai sepanjang hari. Pulang adalah sebuah novel yang sebulan terakhir tergeletak bersama dengan setumpuk buku lainnya, masih terbungkus plastik dan berlabel harga. Tampak tidak dipedulikan. Sebenarnya mereka memang masuk ke dalam mission impossible yang harus diselesaikan semasa liburan. Hmm, selain sulit merubah arah otak dan hati dari aktifitas day to night yang seabrek, membaca memerlukan kekuatan supernatural...ooops, superb I means.
Kembali ke novel diatas. I told you, I always love Tere Liye, still. Ini novel ke entahlah, tak terhitung lagi, lebih tepatnya lupa, karena setiap novel keluar langsung jadi incaran, terkecuali edisi terlalu menggunakan imaginasi tinggi like bumi or bulan dan sejenisnya. I am not in.
Pulang, dua tiga bab pertama membuat saya mikir panjang, ini serius??? Jalan ceritanya sungguh berbeda. Oh ayolah, sejumlah novel pendahulu juga membuat saya berpikir, but it's totally different.
Shadow economy? What kind of phrase in world is it? Pelan-pelan saya membaca bagian penjelasan ini, tertarik, berminat, penasaran. Karena ingin tahu ini ceritanya orisinal atau mengambil jalan cerita yang sama dengan novel lain (well, Tere Liye pernah melakukan itu dengan mengambil cerita The Story Of My Life nya Hellen Keller, but I don't like it), saya browse sana sini, baca review di newsletter langganan, ah I miss another two previous books, dua buku yang berjudul negeri... yang saya memang sengaja skip karena malas, terkesan berat, politik, just don't like it. Nah ternyata cerita sejenis ini menghadirkan sensasi kembaca tersendiri.
Awalnya sedikit mirip dengan Bidadari... berlatar negeri yang sama, saya mulai meraba mungkin ceritanya akan kesana, tentang pengabdian, tentang keluarga, tapi ini berbeda, definitely. Meski dimulai dengan pertarungan dengan Babi hutan, jalan ceritanya out of my expectation. Lembar-lembar yang tak bisa saya hentikan untuk membacanya, kisah sebuah dinasti penguasa ekonomi di dunia yang tak pernah terpikirkan. Ah, sambil membaca, saya sambil teringat beberapa film Cina soal mafia, soal bisnis dunia hitam dan sejenisnya, atau film Korea, atau Makau, tapi di Indonesia rasanya tak terbayangkan. Ada juga rupanya yah? Gosh, I am so blind about this thing.
Sosok Bujang hadir sebagai tokoh utama, pemberani, setia, cerdas, dan ahli di berbagai bidang. Di sini saya agak merasa ragu, ada ya seseorang yang bisa menguasai begitu banyak hal, bicara bahasa yang berbeda, menembak, bertarung, berpedang, mengemudikan pesawat, bernegosiasi, bahkan Tony Stark pun tak sebegitunya. Lantas pikiran saya melayang pada agen Ethan di Mission Impossible, he can do everything, he is the best on his jobs. Tapi beberapa kejadian di bab berikutnya membuat tokoh utama terlihat manusiawi. Tokoh lainnya dipenuhi oleh Tauke besar/ muda, Frans, White, Yuki and Kiko, dan lain-lain. Yang menarik bagi saya tetap Bujang, meski awalnya sempat naksir dengan Bashir.
Jalan ceritanya maju mundur teratur, setiap bab yang mengulas masa lalu akan membawa ke cerita masa kini yang terkait, jadi pembaca pemula tidak akan sepusing membaca Rembulan... Ending cerita membawa saya pada kalimat-kalimat khas Tere Liye yang mengajak pada proses merenung mendalam soal kehidupan, melepaskan, penerimaan. Meski bab Samurai Sejati mengembalikan ingatan saya pada The Last Samurai. Saya jadi tertawa sendiri, ini baca satu novel tapi berbagai cerita baik itu film maupun novel campur aduk di kepala. Sederhananya, saya masih ingat semua potongan cerita yang pernah saya temukan. Fair enough...
Settingnya juga bikin berdecak-decak, wow pedalaman bukit Barisan, Jakarta, Hongkong, Manila, Makau... benar-benar seperti menonton adegan kejar-kejaran ala mafia tingkat tinggi. Saya mikir lagi, ini risetnya seberapa lama yak? Bisa ya nulis buku kayak begini nadanya? Bagi saya yang ehm tak mengerti Ekonomi, ini seperti belajar hal baru yang menarik dan menantang..hoho..
Hmm, itulah kilasan tentang novel Pulang di sela-sela aktivitas liburan fully mommy di awal tahun ini. Semoga selalu membawa jalan pulang pada jiwa yang kadang ingin mencoba dan menyasar tempat yang salam. Welcome 2016 😊
Monday, October 20, 2014
Rindu
Wahai laut yang temaram, apalah arti memiliki? Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami.
Wahai laut yang lengang, apalah arti kehilangan? Ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan.
Wahai laut yang sunyi, apalah arti cinta? Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah. Bagaimana mungkin kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun.
Wahai laut yang gelap, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu, hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.
Wahai laut yang lengang, apalah arti kehilangan? Ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan.
Wahai laut yang sunyi, apalah arti cinta? Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah. Bagaimana mungkin kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun.
Wahai laut yang gelap, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu, hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.
Salah satu potongan menarik yang saya ambil dari novel yang baru khatam dibaca sejak semalam. Butuh perjuangan untuk kembali membaca, dengan perut gendut yang mudah sekali lelah pada posisi tertentu, tentulah saya harus berusaha agar tetap bisa melanjutkan bacaan dalam kondisi nyaman sebelum beragam keluhan muncul. Sudah sejak lama saya ingin sekali menemukan, membeli atau mengkoleksi novel layak baca, setelah hunting kemana-mana dan menyimpulkan sekenanya bahwa enough for this time, beberapa kali membeli novel yang langsung saya lempar setelah membaca selembar dua, not interesting, too easy, predictable.
Setelah semalam melirik sepintas lalu, hampir tidak tertarik dengan novel bersampul putih tanpa gambar berjudul besar dengan nama penulis yang sempat singgah di hati saya begitu lama. Namun beberapa novel barunya tidak membuat saya jatuh cinta. Selalu, saya akan membaca ringkasan di belakang sampul, menebak-nebak kemana arah buku setebal 544 halaman ini.
Mulanya saya pikir, buku ini akan membahas kejadian kecelakaan kapal besar atau setidaknya ceritanya akan memiliki alur mirip dengan "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck" yang "baru" ditemukan banyak orang padahal sudah begitu lama di tulis, atau masih berkisar cinta namun tidak se vulgar karya NH Dini yang juga mengambil setting kapal. Hmm, mungkin bisa se tragis Titanic, hehe. Alur cerita yang di mulai dengan kesibukan kapal serta setting yang di ambil di tahun amat sangat jadul membimbing saya pada kesimpulan tadi. Biasanya kalau bosan, saya akan loncat ke bagian tengah cerita, lalu ke belakang langsung kemudian akhirnya menumpuk buku di rak yang sudah kepenuhan :D. Namun novel ini cukup membuat saya tertarik dalam jangka panjang. Meski baru selesai beberapa menit lalu, rekor, karena sudah dimulai semalam (saya tidak pernah bisa menahan diri menghabiskan buku bagus, apapun jenisnya).
Alur cerita dimulai dengan pengenalan tokoh yang tidak biasa. Di awal sempat menduga bahwa tokoh utama hanya akan ada satu atau dua yang terikat perasaan cinta, rindu tak terbendung, kasih tak sampai. Namun, saya suka mengetahui bahwa saya salah, tokoh di sini bukan hanya ada satu atau dua tapi beberapa. Sebutlah keluarga Daeng Andipati dengan kedua anak gadis yang sering menjadi sentral cerita (Anna yang selalu ingin tahu dan Elsa), Gurutta (Ahmad Karaeng, seorang ulama besar juga dari Makassar), Ambo (yang saya pikir akan disoroti sendiri tentang kisah cinta dan hidupnya), Bonda Upe, Mbah Kakung juga beberapa detil kecil tentang Ruben, Chef, Kapten Phillips dan lainnya. Saya pikir jika ingin menulis tentang kisah banyak tokoh, maka ada baiknya dipilah satu satu atau dijadikan bab berbeda, namun di sini semua dijalin dalam satu cerita yang menggugah minat. Kisah hidup masing-masing tokoh tepatnya pertanyaan-pertanyaan hidup yang menggelayut menjadi beban hidup tokoh seolah menggambarkan lebih jelas dari pengantar perkenalan biasa. Saya suka cara ini.
Sebenarnya latar belakang cerita di kapal membuat beberapa kejadian harus di ulang, apalagi ini perjalanan panjang menuju Baitullah hingga rutinitas di kapal menjadi sorotan. Riak-riak konflik muncul di beberapa bagian. Sempat ingin melewatkan bagian monoton ini tapi tetap takut ketinggan cukilan cerita menarik.
Yang saya selalu suka dari beberapa karya Tere Liye, selain bahasanya yang membumi alias mudah di cerna, sederhana, biasa saja, tidak terlalu nyastra, tidak pula berlewah, juga pesan yang ingin disampaikan melalui cerita disampaikan dengan apik dan tertata. Perlu pengalaman hidup atau setidaknya perlu membaca banyak hikmah hingga mampu menyampaikan pesan kehidupan dengan yakin. Karena seringkali kita sebenarnya tidak yakin dengan apa yang kita sampaikan meski di orang lain terdengar sangat meyakinkan.
Meski saya bukan penggila sejarah, yang sepertinya bisa dibodohi jika ada kesalahan tahun atau nama pejuang lama, cerita dalam novel ini memerlukan riset yang cukup banyak. Ada banyak nama dari perjuangan kemerdekaan yang belum pernah saya dengar dari buku sejarah lama, ada banyak pengetahuan tentang semesta yang saya yakin harus diambil dari ensiklopedia tebal tentang laut dan isinya, migrasi hewan, jenis ikan, dan sejenis itu. Juga tempat-tempat bersejarah yang sepertinya beberapa saat ini sudah berubah total menjadi sesuatu yang berbeda seperti Batavia, Semarang dan Surabaya tempoe doloe, Sri Lanka juga pengetahuan tentang seluk beluk kapal serta setiap detillnya. Saya rasa penulis kali ini serius mencemplungkan diri ke dalam sesuatu yang berbeda rasa dari sebelumnya. Saya juga menemukan pesan yang disampaikan punya taste berbeda dari buku-buku terdahulu yang rata-rata mirip.
Setiap kita punya banyak pertanyaan untuk di jawab selama hidup, meski ada yang langsung terjawab dan ada pula yang tak pernah menemukan jawaban. Tapi hidup tentu harus terus berjalan bukan? Berminat untuk tenggelam dalam kisah "rindu" yang berbeda? Mendapati ending yang tak terduga, novel ini saya rekomendasikan untuk di baca :) Happy Reading.
Thursday, June 13, 2013
Rantau 1 Muara
Meski sudah mencoba berpindah genre, alih-alih terlanjur sayang dengan novel (sekali), saya masih tetap cinta dengan novel yang mencampur memoar dengan sedikit bumbu. Sederet novel yang berkisah tentang perjalanan hidup, sekolah ke luar negeri atau pencarian cinta serta jati diri terus saja menjadi referensi tiap kali saya ingin membeli novel baru.
Rantau 1 Muara buku ketiga dari trilogi yang diciptakan A. Fuadi menjadi pilihan bacaan saya minggu ini. Meski saya banyak membaca buku, tetap saja saya tidak bisa menobatkan diri sebagai pembaca yang baik, terbukti hingga saat ini saya masih belum menulis dengan baik serta tidak mudah untuk bisa menjadi tukang kritik atau tukang resensi sebuah buku.
Kisahnya masih sama dengan negeri 5 menara, tokoh utamanya adalah Alif versi 25 tahunan yang baru menyelesaikan kuliah di Bandung. Tokoh Alif disini lebih dihadapkan pada persoalan umum ala orang dewasa yakni berkisar tentang mencari kerja sekaligus menegaskan tujuan hidup.
Selain Randai, teman kecil Alif yang menjadi saingan berat dalam fastabiqul khairat, nama-nama yang muncul dalam buku ketiga ini tergolong baru. Alif awalnya merasa tidak perlu terburu-buru mencari pekerjaan karena merasa (sombong) dirinya bisa menyelesaikan kuliah sambil mengirim tulisan ke beberapa media lokal. Konflik batin mulai muncul saat kantor tempatnya menulis mendadak harus mengurangi pegawai karena krisis moneter. Setting waktu pada tahun 1998 memberi saya kilasan ulang akan apa yang terjadi saat pengalihan tahta dan kekuasaan Presiden Suharto. Alif tidak banyak terlibat untuk hal politik ini atau setidaknya disini tidak disebutkan detail.
Himpitan ekonomi membuat Alif jungkir balik harus segera menetapkan diri bekerja dengan janji kehidupan finansial yang lebih menjamin. Selain untuk kehidupannya pribadi, Alif juga harus membantu amak dan adik-adiknya bersekolah di kampuang nan jao dimato. Setelah gagal memasuki instansi pemerintah yang sesuai dengan kualifikasinya yakni hubungan internasional, Alif memutuskan untuk bekerja di media yang selama ini sudah dimulainya. Saya suka peperangan batin saat Alif dalam situasi mencari pekerjaan yang sesuai idealisme (sangat sulit pada masa itu), penolakan dari berbagai perusahaan, tantangan Randai yang telah mendahuluinya menjadi pegawai IPTN serta tantangan untuk melanjutkan sekolah ke Amerika atau Eropa.
Yang tak kalah menarik adalah awal masa kerja Alif di Jakarta di kantor berita Derap. Disini muncul tokoh-tokoh unik dan keren menurut saya, Mas Aji, Malaka, Pasus dan rekan-rekan kerjanya yang dinamis. Gambaran bagaimana Alif dan Pasus akhirnya mendapat gelar doktor alias mondok di kantor membuat saya bersyukur dengan kehidupan saya sendiri. Suasana kantor Derap membuat saya iri, bagaimana tidak semua orang dipacu untuk menghasilkan kinerja yang jujur, luar biasa, dan profesional. Alif juga galau disini, merasa bahwa pekerjaan yang ia pilih tak sesuai passion, kemudian ingin pula bekerja di tempat lain yang secara finansial lebih tinggi. Bekerja di Derap mengharuskan semua stafnya anti korupsi dan anti suap.
Cerita makin menawan saat Alif pertama kali bertemu Dinara. Layaknya "imprint" yang dialami Jacob pada Renesmee di sekuel Twilight, Alif mulai sulit mendefinisikan apa yang dirasakan pada wanita pemilik mata indah tersebut. Debar-debar ini sempat terhenti karena Alif merasa tidak setara dengan Dinara yang cantik, aktif, lulusan komunikasi UI, serta anak gaul Jakarta. Keduanya hanya larak lirik dan berbincang kadang-kadang hingga akhirnya Alif memperoleh beasiswa ke Amerika. Perjuangan beasiswanya juga seru, selalu seru dalam poin ini (bagi saya). Tak ingin Dinara menunggu terlalu lama atau hilang karena impiannya bersekolah di London, Alif bersegera melamar. Sempat alot karena bapak Dinara tidak setuju sama sekali. Setelah berdialog, bertaruh diri memperjuangkan wanita idamannya, Alif memboyong Dinara ke Amerika.
Cerita berlanjut dengan sulitnya kehidupan awal pernikahan di negeri orang, tentang keluarga baru, masalah-masalah baru disana hingga kembali ke Indonesia.
Novel ini bagus meski di beberapa bagian saya merasa`bahasa yang digunakan tidak mirip lagi dengan bahasa seorang A.Fuadi. Terlepas dari hal tersebut, it's highly recommended to be read.
Rantau 1 Muara buku ketiga dari trilogi yang diciptakan A. Fuadi menjadi pilihan bacaan saya minggu ini. Meski saya banyak membaca buku, tetap saja saya tidak bisa menobatkan diri sebagai pembaca yang baik, terbukti hingga saat ini saya masih belum menulis dengan baik serta tidak mudah untuk bisa menjadi tukang kritik atau tukang resensi sebuah buku.
Kisahnya masih sama dengan negeri 5 menara, tokoh utamanya adalah Alif versi 25 tahunan yang baru menyelesaikan kuliah di Bandung. Tokoh Alif disini lebih dihadapkan pada persoalan umum ala orang dewasa yakni berkisar tentang mencari kerja sekaligus menegaskan tujuan hidup.
Selain Randai, teman kecil Alif yang menjadi saingan berat dalam fastabiqul khairat, nama-nama yang muncul dalam buku ketiga ini tergolong baru. Alif awalnya merasa tidak perlu terburu-buru mencari pekerjaan karena merasa (sombong) dirinya bisa menyelesaikan kuliah sambil mengirim tulisan ke beberapa media lokal. Konflik batin mulai muncul saat kantor tempatnya menulis mendadak harus mengurangi pegawai karena krisis moneter. Setting waktu pada tahun 1998 memberi saya kilasan ulang akan apa yang terjadi saat pengalihan tahta dan kekuasaan Presiden Suharto. Alif tidak banyak terlibat untuk hal politik ini atau setidaknya disini tidak disebutkan detail.
Himpitan ekonomi membuat Alif jungkir balik harus segera menetapkan diri bekerja dengan janji kehidupan finansial yang lebih menjamin. Selain untuk kehidupannya pribadi, Alif juga harus membantu amak dan adik-adiknya bersekolah di kampuang nan jao dimato. Setelah gagal memasuki instansi pemerintah yang sesuai dengan kualifikasinya yakni hubungan internasional, Alif memutuskan untuk bekerja di media yang selama ini sudah dimulainya. Saya suka peperangan batin saat Alif dalam situasi mencari pekerjaan yang sesuai idealisme (sangat sulit pada masa itu), penolakan dari berbagai perusahaan, tantangan Randai yang telah mendahuluinya menjadi pegawai IPTN serta tantangan untuk melanjutkan sekolah ke Amerika atau Eropa.
Yang tak kalah menarik adalah awal masa kerja Alif di Jakarta di kantor berita Derap. Disini muncul tokoh-tokoh unik dan keren menurut saya, Mas Aji, Malaka, Pasus dan rekan-rekan kerjanya yang dinamis. Gambaran bagaimana Alif dan Pasus akhirnya mendapat gelar doktor alias mondok di kantor membuat saya bersyukur dengan kehidupan saya sendiri. Suasana kantor Derap membuat saya iri, bagaimana tidak semua orang dipacu untuk menghasilkan kinerja yang jujur, luar biasa, dan profesional. Alif juga galau disini, merasa bahwa pekerjaan yang ia pilih tak sesuai passion, kemudian ingin pula bekerja di tempat lain yang secara finansial lebih tinggi. Bekerja di Derap mengharuskan semua stafnya anti korupsi dan anti suap.
Cerita makin menawan saat Alif pertama kali bertemu Dinara. Layaknya "imprint" yang dialami Jacob pada Renesmee di sekuel Twilight, Alif mulai sulit mendefinisikan apa yang dirasakan pada wanita pemilik mata indah tersebut. Debar-debar ini sempat terhenti karena Alif merasa tidak setara dengan Dinara yang cantik, aktif, lulusan komunikasi UI, serta anak gaul Jakarta. Keduanya hanya larak lirik dan berbincang kadang-kadang hingga akhirnya Alif memperoleh beasiswa ke Amerika. Perjuangan beasiswanya juga seru, selalu seru dalam poin ini (bagi saya). Tak ingin Dinara menunggu terlalu lama atau hilang karena impiannya bersekolah di London, Alif bersegera melamar. Sempat alot karena bapak Dinara tidak setuju sama sekali. Setelah berdialog, bertaruh diri memperjuangkan wanita idamannya, Alif memboyong Dinara ke Amerika.
Cerita berlanjut dengan sulitnya kehidupan awal pernikahan di negeri orang, tentang keluarga baru, masalah-masalah baru disana hingga kembali ke Indonesia.
Novel ini bagus meski di beberapa bagian saya merasa`bahasa yang digunakan tidak mirip lagi dengan bahasa seorang A.Fuadi. Terlepas dari hal tersebut, it's highly recommended to be read.
Friday, May 17, 2013
Aku Suka "TERE LIYE"
Aku tak pernah berniat memutuskan hubungan baikku dengan membaca. I have built this habit and I won't easily let it go. Meski selera buku bacaanku menurutku rumit dan tak tertebak. Minggu ini aku bisa saja kembali ke buku-buku pebuh intrik, bermacam kode rahasia, seperti kisah Da Vinci Code atau Juliet, minggu depan aku berbalik kembali dengan buku-buku tebal bersampul indah tentang perjuangan Aisyah, tentang menjadi Istri yang baik, tentang menjalankan hidup dengan benar, lalu aku bisa dengan mudah berbalik hati menuju memoar yang membangun semangatku tetap berada di jalan ini atau novel penggugah hati berisi pesan-pesan isyarat yang tampak biasa tapi jika direnungkan sungguh tak mudah melaksanakannya.
Aku telah lama berkenalan dengan penulis ini, setahun lalu kurasa tapi dengan gayaku yang cuek terhadap penulis baru, atau aku tak ambil peduli. Buku pertama yang kubaca membuatku menangis tersuruk-suruk, belajar tentang pengorbanan seorang Tegar, penerimaannya terhadap sebentuk cinta Rosie dan Nathan, dan beragam pelajaran kekuatan menjalani hidup. Buku Senja Bersama Rosie ini tetap menjadi favoritku dari sederatan buku Tere Liye yang pernah kubaca.
Buku kedua yang kubaca, Hapalan Sholat Delisa, membuatku berpikir betapa anak kecil lebih mudah memaafkan, lebih mudah menerima, ah lagi-lagi tentang penerimaan terhadap takdir yang terjadi, terhadap pilihan tak terelakkan. Betapa anak kecil seringkali mengjarkan kepada kita bagaimana mencintai hidup meski hanya dengan satu kaki, meski tanpa ibu. Aku suka, meski aku cenderung terlalu membandingkan jika sebuah buku telah dijadikan film, kadang membuatku tak fokus.
Buku ketiga, lagi membuatku menangis tersuru-suruk lama di depan meja, hingga tak minat makan, tiba-tiba kenyang. Membaca dan membayangkan selaksa cinta yang dimiliki Laisa untuk keempat adik (tirinya), untuk apapun yang ia persembahkan terhadap hidup, juga untuk mensyukuri setiap jengkal kisah yang dipilihkan hidup untuknya. Tak pernah kutemukan sosok wanita begini berhati putih, teramat putih jauh dari fisiknya yang berbeda yang membuatknya tak mendapatkan kesempatan untuk mendapat pendamping di dunia karena alasan ia terlalu mencolok dan tidak cantik. Tak hanya tokoh Laisa membuatku tergila-gila hingga berpikir lama tentang hidupku sendiri, Dalimunte, dan ketiga adiknya juga memberikan rasa kasih sayang yang jarang dimiliki orang-orang saat ini terhadap saudara mereka. Buku Bidadari-bidadari Surga mendapat tempat dihatiku setelah kisah Tegar dan Rosie.
Tak kalah menariknya aku menemukan Rembulan Tenggelam di Matamu tanpa sengaja, tanpa minat khusus hingga dipertemukan dengan sosok Raihan, Ray. Kisah panjang hidup seorang lelaki tak biasa, yang menentang apapun yang diberikan hidup, yang selalu berontak. Bahwa hidup adalah sebuah sebab-akibat, apapun yang kita lakukan akan berdampak pada hidup orang lain juga berbalik ke hidup kita sendiri. Ray yang memasuki dunia hitam setelah beragam kejadian yang ternyata membuat hidup orang disekitarnya, yang dibncinya, berbalik arah menuju Tuhan. Seorang Ray yang hanya kenal cinta sekali, menerima istrinya yang penuh latar belakang kelabu, mencintai dan mengajaknya ke jenjang komitmen tertinggi dengan tulus namun harus rela menyerahkan istrinya yang penuh totalitas memperbaiki masa lalu kelamnya dengan memberikan hidupnya pada sang suami, yang meninggal dalam kondisi sangat bersahaja. Ray yang mendapat kesempatan mendapat jawaban dari setiap pertanyaan rumit yang ia tanyakan sejak kecil. Ray yang menjalani masa tua bergelimang materi dan impian terwujud namun hatinya kosong. Ah, ceritanya manusia sekali.
Berikutnya satu buku numpang baca alias minjam, Moga Bunda Disayang Allah. Aku sempat tertarik di awal tapi langsung teringat cerita lain yang pernah kubaca. Ternyata buku ini memang mengangkat topik yang sama dari buku yang kubaca, kisah hidup Hellen Keller yang malang tapi wanita hebat itu. Kisah yang mengambil inspirasi dari buku tersebut juga bagus meski aku orang yang tak suka perbandingan seperti ini. Tapi tetap banyak yang bisa dipelajari tentang cinta ibu-anak, tentang pemaafan masa lalu yang sulit, tentang kesabaran menunggu.
Nah, hari ini aku membaca salah bukunya yang lain kali ini, lagi, tentang cinta yang tak biasa, kukatakan padamu tak ada kisah cinta yang biasa, semua punya caranya masing-masing, semua bolehlah dibilang melahirkan perasaan indah meski itu cinta sepihak, cinta tak terucap atau apapun jenis cinta ini. Adalah Borno, pemuda biasa yang menemukan cinta tiba-tiba. Kata Pak Tua, cinta selalu punya caranya sendiri, entah itu namanya takdir, kebetulan, atau apapun itu akan mempertemukan kedua orang yang jatuh cinta meski kadang tampak tak logis, meski sering juga manusia lebih sering tak sabar merancang sendiri cara cintanya bekerja. Kata Pak Tua lagi cinta itu diwujudkan dalam perbuatan, jika masih bertengger pada kata-kata ia belum bisa disebut cinta. Cinta itu sederhana, ingin memuliakan pelakunya jika dijalankan dengan cara yang mulia pula. Pemuda berhati lurus ini sekali menemukan cinta tak dapat memalingkan hati meski berkali-kali ditinggalkan, diabaikan tanpa penjelasan. Dulu aku sempat berpikir bahwa laki-laki itu begitu, pun wanita juga. Ternyata aku salah, cinta model apik begini hanya ada di novel, film drama Korea, juga film India. Cinta sekarang, atau mungkin sebut saja pelaku cinta sekarang lebih realistis. Kupikir endingnya akan sedih, sesedih Rome Juliet, lagi-lagi karena di halaman-halaman akhir sang perempuan si Sendu Menawan sakit parah ternyata tidak, kurasa penulis tidak sesadis itu.
Aku suka penulis ini, setidaknya saat ini, banyak yang bilang tulisan-tulisannya sederhana dan ya sangat sederhana sebenarnya, tapi dari kesederhanaan itulah terselip ketulusan pesan yang ingin disampaikan. Akan berburu novel-novel beliau ini saat keberanian untuk melanjutkan perjalanan menapaki bumi Allah ini kembali.
Subscribe to:
Posts (Atom)

