Melakukan perjalanan jauh saat kehamilan trimester ketiga memang sangat mendebarkan. Saya dihantui ketakutan aneh bin ajaib misal melahirkan sebelum waktunya atau pada tempat yang salah, di atas pesawat misalnya...olala.
Perjalanan pada tahap ini pasti membuat lelah bertambah-tambah, naik motor bersama suami saja menjadi sangat melelahkan terutama untuk jarak jauh. Ukuran perut yang kian melar ditambah sesak jika duduk terlalu lama menjadi kendala utama, dan jangan lupa keinginan untuk selalu menuju kamar kecil selalu ada. Subhanallah ya menjadi ibu itu berat dari awal hingga nanti dan seterusnya.
Dari yang saya riset, perjalanan paling aman adalah menggunakan moda transportasi udara, karena selain jarak tempuh yang singkat, ibu hamil diberi banyak kemudahan. Terlepas dari itu, ada resiko tentu saja yang harus diambil seperti tekanan udara yang beda yang bikin sesak hingga tadi, ada yang melahirkan sebelum waktunya alias prematur. Tapi bagi ibu-ibu yang tidak memiliki sejarah pendarahan, keguguran atau sakit parah lainnya dianjurkan terbang dengan surat ijin dari dokter.
Perkara surat juga menjadi ribet saat cuti kehamilan baru bisa di ambil saat usia kehamilan mencapai 32 minggu atau lebih, karena bagi pegawai pemerintah cuti bersalin berlaku satu bulan sebelum dan dua bulan setelah melahirkan. Disisi lain dokter atau bidan hanya akan memberi ijin terbang sesuai dengan syarat yang diberikan maskapai. Rata-rata maskapai memberikan kebijakan untuk kehamilan maksimal usia 32 minggu, jika lebih dari itu, bersiaplah untuk kehilangan uang giket karena mereka akan ngotot tidak memberikan ijin laik terbang.
Tidak berhenti sampai disitu, saat check in juga bikin deg-degan, pihak maskapai akan meminta bumil untuk mengisi surat pernyataan yang bunyinya kurang lebih mereka tidak bertanggung jawab atas apapun resiko selama perjalanan, pelit banget yah?
Well, the long journey finally comes today. Dari semalam, sebenarnya beberapa malam sebelumnya sudah dag dig duer, takut ini takut itu, serba parno. Yang paling dicemaskan tentu kondisi bayi tercinta. Meminjam istilah ibu mertua saya, masuk bulan ini sudah mulai masuk gerbang perjalanan antara hidup dan mati, melahirkan itu sebuah proses sulit yang akan dilalui seorang ibu. Diiringi doa-doa dari banyak orang tercinta, akhirnya bismillah naik pesawat dengan merapal doa panjang. Hebatnya bayiku tercinta bergerak sepanjang perjalanan padahal sudah membaca banyak hal menarik dan melakukan aktivitas seperti biasa. Mungkin terlalu excited, atau cuacanya beda..hehe
Still have anogher flight... mudah-mudahan lancar ya Tuhan...
Don't: - force others to think like the way you do. - hope too much and expect a lot, especially from something/ someone that even you don't know that well. - struggle that hard for stuffs that won't lead you to neither heaven nor happiness. Do: - be positive, for being older is a must, you don't wanna be old and annoying on your own uh? - be grateful for every single thing Allah has presented to your life, keep the good one and eradicate the bad one.
Monday, December 1, 2014
Tuesday, November 25, 2014
Show Me Your Sympathy
Recently I ve found that people are hard to sympathize to others. Showing sympathy is rather similar with show others that you care, you do care about them or their sorrow. Sympathy is given to those who get unlucky events, such as sickness, accident, pain, of lost. It's really needed actually in order to tell those that they are not alone in this wild world.
Well, a couple months ago I asked you, my dear, to design words and also cards for showing your sympathy to those who need it. Today, I'd like to show which ones belong to the greater one, since each of you made such lovely ones. I won't name them, I just show you the pictures that I took after I read and scored them. Here they are:
Here is the one which gets the highest score...
Well, hopefully after this you can easily show your sympathy to other people in many chances. God blesses us ;)
Thursday, November 20, 2014
Going insane
Being seated in a room for about 8 to 9 hours is terribly insane.. can't hold it no more. Once it hurts your back, then it's gonna last for days. Yeah, the journey began this morning, when I had to follow such an activity, quite different with my routine. All I gotta do is listening carefully, asking whenever needed, turning on my computer and working out with it all day. I made myself walk to mosque or wandered a little bit from this to that, just to make sure that tonight I'll sleep tight without that silly brickitty backache.
Last night was such a nightmare. I couldn't sleep in peace like I planned. My body liked being tortured. And this morning, it continues to make progress...*sigh. I have complained myself since an hour ago. Like I can't sit here anymore. You know it's going to be a long tiring day, still have another day. Then how?
Thursday, November 13, 2014
Trimester Ketiga
It's not a dead end, yet.
Nujuh Bulanan
Well, di keluarga tidak pernah dengar istilah atau acara ini. Lain lubuk lain ikannya, mertua tercinta tetap ingin menjalankan tradisi keluarga plus mengikuti anjuran adat dst dst, haruslah kami meluangkan weekend awal November lalu untuk menjalani beragam prosesi nujuh bulan. Tak ubahnya menjadi pengantin yang kedua kalinya, hanya saja sekarang sang pengantin terlalu seksi hingga tak sanggup bersanding lebih lama.
Acara tentu saja diramaikn oleh pihak keluarga suami terutama, tetangga, dan kolega mertua. Sehari sebelum hari H sudah diramaikan oleh acara masak jamaah, dan hiruk pikuk dari pagi hingga malam. Beberapa yang beda ialah punya prosesi pijat plus mandi bunga-bunga, doa (seperti acara lain), rujakan, terus dilanjutkan prosesi resepsi yang membuat kaki rasa mau patah.
Yang saya tunggu-tunggu adalah pijatan..hiks kirain akan di pijat secara menyeluruh dan berkesinambungan karena badan ini rasanya sudah tak kuasa. Berjalan pun susah, jongkok susah, dibonceng motor susah, naik bus jauh lebih menderita. Capek pakai banget untuk semua jenis aktivitas. Ternyata oh ternyata pijat 7 bulan itu tak ubahnya di elus perut saja, weh, saya kecewa. Sang nenek hanya membuat otot perut tidak terlalu kencang karena aktivitas saya yang macam-macam, nyetir, naik turun tangga, ngomel, berdiri kesana kemari. Setelah satu dua tiupan saya diminta mandi bunga-bunga, serem ya kalau di sebut mandi kembang. Saya disiram dengan bunga warna warni tapi tidak wangi sama sekali, puiiiih.
Yang paling sulit ialah resepsi, berjejer bersama mertua dan suami. Meski ketiganya berdiri dan saya sesekali ngumpet, tapi tetap saya yang di cari, tokoh utama nujuh bulanan ceritanya. Cuappppeeeek sangat, padahal cuman salam-salam, tegak duduk, tapi perut saya kan gendut, can I just lay down? Acara ini berlangsung hingga sore, sore sekali hingga kaki, tangan, badan sudah tidak terkoneksi dengan baik dan benar.
Trimester ketiga ternyata jauh lebih sulit lagi. Wajar jika surga di telapak kaki ibu, karena jadi ibu itu benar-benar hatus siap lahir batin. Ini saja yang masih calon ibu rasanya kadang tak sanggup. Kombinasi bobot yang terus bertambah plus suhu tubuh yang kian meningkat plus emosi yang super labil menjadikan setiap hari adalah momem lelah tak terhingga. Belum lagi tuntutan pekerjaan yang menggila dan urusan rumah tangga yang juga punya porsi besar membuat hidup jadi rumit. Moga di beri kesabaran dan disiapkan mental untuk jadi ibu yang spesial,
Nujuh Bulanan
Well, di keluarga tidak pernah dengar istilah atau acara ini. Lain lubuk lain ikannya, mertua tercinta tetap ingin menjalankan tradisi keluarga plus mengikuti anjuran adat dst dst, haruslah kami meluangkan weekend awal November lalu untuk menjalani beragam prosesi nujuh bulan. Tak ubahnya menjadi pengantin yang kedua kalinya, hanya saja sekarang sang pengantin terlalu seksi hingga tak sanggup bersanding lebih lama.
Acara tentu saja diramaikn oleh pihak keluarga suami terutama, tetangga, dan kolega mertua. Sehari sebelum hari H sudah diramaikan oleh acara masak jamaah, dan hiruk pikuk dari pagi hingga malam. Beberapa yang beda ialah punya prosesi pijat plus mandi bunga-bunga, doa (seperti acara lain), rujakan, terus dilanjutkan prosesi resepsi yang membuat kaki rasa mau patah.
Yang saya tunggu-tunggu adalah pijatan..hiks kirain akan di pijat secara menyeluruh dan berkesinambungan karena badan ini rasanya sudah tak kuasa. Berjalan pun susah, jongkok susah, dibonceng motor susah, naik bus jauh lebih menderita. Capek pakai banget untuk semua jenis aktivitas. Ternyata oh ternyata pijat 7 bulan itu tak ubahnya di elus perut saja, weh, saya kecewa. Sang nenek hanya membuat otot perut tidak terlalu kencang karena aktivitas saya yang macam-macam, nyetir, naik turun tangga, ngomel, berdiri kesana kemari. Setelah satu dua tiupan saya diminta mandi bunga-bunga, serem ya kalau di sebut mandi kembang. Saya disiram dengan bunga warna warni tapi tidak wangi sama sekali, puiiiih.
Yang paling sulit ialah resepsi, berjejer bersama mertua dan suami. Meski ketiganya berdiri dan saya sesekali ngumpet, tapi tetap saya yang di cari, tokoh utama nujuh bulanan ceritanya. Cuappppeeeek sangat, padahal cuman salam-salam, tegak duduk, tapi perut saya kan gendut, can I just lay down? Acara ini berlangsung hingga sore, sore sekali hingga kaki, tangan, badan sudah tidak terkoneksi dengan baik dan benar.
Trimester ketiga ternyata jauh lebih sulit lagi. Wajar jika surga di telapak kaki ibu, karena jadi ibu itu benar-benar hatus siap lahir batin. Ini saja yang masih calon ibu rasanya kadang tak sanggup. Kombinasi bobot yang terus bertambah plus suhu tubuh yang kian meningkat plus emosi yang super labil menjadikan setiap hari adalah momem lelah tak terhingga. Belum lagi tuntutan pekerjaan yang menggila dan urusan rumah tangga yang juga punya porsi besar membuat hidup jadi rumit. Moga di beri kesabaran dan disiapkan mental untuk jadi ibu yang spesial,
Tuesday, November 11, 2014
Hujan
Kedatangan hujan telah dinanti-nanti banyak orang terutama saya yang akhir-akhir ini mengalami lonjakan suhu tubuh drastis. Katanya memang normal begitu, ketika makin bertambah bulan kehamilan, maka makin terasa gerah luar dalam. Sumpah, saya rindu hujan. Rindu saat bisa menghabiskan waktu menarik selimut dan merasakan sejuk cenderung dingin. Rindu waktu jalan sore mencium aroma angin segar dan bau tanah basah.
Datangnya hujan juga dinantikan banyak orang, terutama yang sudah mengalami kekeringan air sumur. Hampir semua kolega mengalami hal ini, membuat para suami sibuk di petang hari mengangkut berderijen air demi orang-orang tercinta di rumah. Untunglah hunian sementara kami punya sumber air yang tak terkira banyaknya, yang sangat mengerti bahwa penat dan lelah di sore hari tak perlu di tambah keringat mencari dan mengangkut air.
Hujan, kemarin hujan pertama setelah mungkin sebulan lalu. Sebulan lalu pun hanya beberapa menit saja. Kemarin ia datang cukup lama, membuat debu berlarian meski hawa panas masih tersisa di relung-relung tiap ruangan berpenghuni. Hari ini hujan datang lebih lama, membuat payung yang telah lama pensiun kembali bekerja. Membuat senyum mengembang lebih lama meski basah, meski percikan air membuat kaos kaki jadi lembab serta langkah mesti tertahan karena semua trotoar dan jalan licin dan penuh bercak noda. Terlalu bahaya jika terpeleset dengan bobot tubuh yang luar biasa ini.
Hujan, membawa berbagai kenangan lama yang meninggalkan sensasi menyenangkan. Serta merta melintaslah cuplikan duka namun tersamar. Terngiang sebuah lagu berjudul sama, lagu lawas dengan ritme beat yang gembira.
Hujan, membawa pemikiran saya tentang kebodohan, atau naluri penyelamatan diri, atau penyesuaian pada banyak hal. Akankah hujan kali ini bertahan setidaknya se pekan? Atau dua hingga tiga hari lagi hingga sejuk bisa bertahan lebih panjang?
Monday, October 20, 2014
Rindu
Wahai laut yang temaram, apalah arti memiliki? Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami.
Wahai laut yang lengang, apalah arti kehilangan? Ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan.
Wahai laut yang sunyi, apalah arti cinta? Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah. Bagaimana mungkin kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun.
Wahai laut yang gelap, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu, hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.
Wahai laut yang lengang, apalah arti kehilangan? Ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan.
Wahai laut yang sunyi, apalah arti cinta? Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah. Bagaimana mungkin kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun.
Wahai laut yang gelap, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu, hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.
Salah satu potongan menarik yang saya ambil dari novel yang baru khatam dibaca sejak semalam. Butuh perjuangan untuk kembali membaca, dengan perut gendut yang mudah sekali lelah pada posisi tertentu, tentulah saya harus berusaha agar tetap bisa melanjutkan bacaan dalam kondisi nyaman sebelum beragam keluhan muncul. Sudah sejak lama saya ingin sekali menemukan, membeli atau mengkoleksi novel layak baca, setelah hunting kemana-mana dan menyimpulkan sekenanya bahwa enough for this time, beberapa kali membeli novel yang langsung saya lempar setelah membaca selembar dua, not interesting, too easy, predictable.
Setelah semalam melirik sepintas lalu, hampir tidak tertarik dengan novel bersampul putih tanpa gambar berjudul besar dengan nama penulis yang sempat singgah di hati saya begitu lama. Namun beberapa novel barunya tidak membuat saya jatuh cinta. Selalu, saya akan membaca ringkasan di belakang sampul, menebak-nebak kemana arah buku setebal 544 halaman ini.
Mulanya saya pikir, buku ini akan membahas kejadian kecelakaan kapal besar atau setidaknya ceritanya akan memiliki alur mirip dengan "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck" yang "baru" ditemukan banyak orang padahal sudah begitu lama di tulis, atau masih berkisar cinta namun tidak se vulgar karya NH Dini yang juga mengambil setting kapal. Hmm, mungkin bisa se tragis Titanic, hehe. Alur cerita yang di mulai dengan kesibukan kapal serta setting yang di ambil di tahun amat sangat jadul membimbing saya pada kesimpulan tadi. Biasanya kalau bosan, saya akan loncat ke bagian tengah cerita, lalu ke belakang langsung kemudian akhirnya menumpuk buku di rak yang sudah kepenuhan :D. Namun novel ini cukup membuat saya tertarik dalam jangka panjang. Meski baru selesai beberapa menit lalu, rekor, karena sudah dimulai semalam (saya tidak pernah bisa menahan diri menghabiskan buku bagus, apapun jenisnya).
Alur cerita dimulai dengan pengenalan tokoh yang tidak biasa. Di awal sempat menduga bahwa tokoh utama hanya akan ada satu atau dua yang terikat perasaan cinta, rindu tak terbendung, kasih tak sampai. Namun, saya suka mengetahui bahwa saya salah, tokoh di sini bukan hanya ada satu atau dua tapi beberapa. Sebutlah keluarga Daeng Andipati dengan kedua anak gadis yang sering menjadi sentral cerita (Anna yang selalu ingin tahu dan Elsa), Gurutta (Ahmad Karaeng, seorang ulama besar juga dari Makassar), Ambo (yang saya pikir akan disoroti sendiri tentang kisah cinta dan hidupnya), Bonda Upe, Mbah Kakung juga beberapa detil kecil tentang Ruben, Chef, Kapten Phillips dan lainnya. Saya pikir jika ingin menulis tentang kisah banyak tokoh, maka ada baiknya dipilah satu satu atau dijadikan bab berbeda, namun di sini semua dijalin dalam satu cerita yang menggugah minat. Kisah hidup masing-masing tokoh tepatnya pertanyaan-pertanyaan hidup yang menggelayut menjadi beban hidup tokoh seolah menggambarkan lebih jelas dari pengantar perkenalan biasa. Saya suka cara ini.
Sebenarnya latar belakang cerita di kapal membuat beberapa kejadian harus di ulang, apalagi ini perjalanan panjang menuju Baitullah hingga rutinitas di kapal menjadi sorotan. Riak-riak konflik muncul di beberapa bagian. Sempat ingin melewatkan bagian monoton ini tapi tetap takut ketinggan cukilan cerita menarik.
Yang saya selalu suka dari beberapa karya Tere Liye, selain bahasanya yang membumi alias mudah di cerna, sederhana, biasa saja, tidak terlalu nyastra, tidak pula berlewah, juga pesan yang ingin disampaikan melalui cerita disampaikan dengan apik dan tertata. Perlu pengalaman hidup atau setidaknya perlu membaca banyak hikmah hingga mampu menyampaikan pesan kehidupan dengan yakin. Karena seringkali kita sebenarnya tidak yakin dengan apa yang kita sampaikan meski di orang lain terdengar sangat meyakinkan.
Meski saya bukan penggila sejarah, yang sepertinya bisa dibodohi jika ada kesalahan tahun atau nama pejuang lama, cerita dalam novel ini memerlukan riset yang cukup banyak. Ada banyak nama dari perjuangan kemerdekaan yang belum pernah saya dengar dari buku sejarah lama, ada banyak pengetahuan tentang semesta yang saya yakin harus diambil dari ensiklopedia tebal tentang laut dan isinya, migrasi hewan, jenis ikan, dan sejenis itu. Juga tempat-tempat bersejarah yang sepertinya beberapa saat ini sudah berubah total menjadi sesuatu yang berbeda seperti Batavia, Semarang dan Surabaya tempoe doloe, Sri Lanka juga pengetahuan tentang seluk beluk kapal serta setiap detillnya. Saya rasa penulis kali ini serius mencemplungkan diri ke dalam sesuatu yang berbeda rasa dari sebelumnya. Saya juga menemukan pesan yang disampaikan punya taste berbeda dari buku-buku terdahulu yang rata-rata mirip.
Setiap kita punya banyak pertanyaan untuk di jawab selama hidup, meski ada yang langsung terjawab dan ada pula yang tak pernah menemukan jawaban. Tapi hidup tentu harus terus berjalan bukan? Berminat untuk tenggelam dalam kisah "rindu" yang berbeda? Mendapati ending yang tak terduga, novel ini saya rekomendasikan untuk di baca :) Happy Reading.
Tuesday, October 14, 2014
Tentang Sinetron Remaja
Hmm, ingin berkeluh kesah soal sinetron yang banyak beredar sekarang. Dari dulu saya memang bukan penggemar tayangan jenis ini meski ada kalanya jika bosan, ikut juga menyaksikan setengah atau satu episode.
Meski tidak ahli dalam hal bikin film, setidaknya bolehlah mengeluarkan uneg-uneg, tidak bisa pula disebut resensi karena tidak sedalam itu. Sineton yang ingin saya komentari bukan sinetron kegemaran ibu-ibu rumah tangga tapi yang sekarang lagi hebohnya dengan singkatan-singkatan yang di sukai para remaja. Sinetron jenis ini awalnya saya pikir tidak mungkin melekat di hati pemirsa, secara sudah sangat tidak masuk akal. Dulu tayangan tv swasta kita dipenuhi sinetron penuh cinta abg, ada tokoh protagonis yang 'suka' di bully, ada pangeran penyelamat, lalu tokoh antagonis yang malah menguasai suasana. Seperti tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dilakukan anak-anak sekolah ini selain mengurusi sekelumit masalah cinta, berebut kekasih, berebut harta... oh no. Saya pikir ini adalah titik terendah jenis tontonan yang bisa disajikan, namun sekarang lebih payah, selain beberapa poin diatas sekarang di tambah dengan bumbu-bumbu di luar logika seperti tokoh-tokoh utama yang memiliki kemampuan gaib, kejedot sesuatu hingga mendapat kekuatan berubah. Okelah jika jadi power rangers, ini berubah menjadi beragam jenis hewan yang punya kekuatan...God.
Tidak tega rasanya membiarkan mata untuk menoleh pada tayangan jenis ini, tapi yang membingungkan mereka malah jadi tontonan favorit dengan rating tinggi, hingga tak cukup satu, sekarang malah film-film sejenis kian bertaburan di banyak channel. Mirisnya, anak-anak usia remaja yang sedang produktif dan kreatif malah menjadi sasaran utama menonton tayangan ini. Saya bingung, bukannya sinetron atau film itu bisa jadi bagian cerita naratif yang didalamnya mesti mengandung pesan moral, lebih banyak pesannya daripada hal teflalu imaginatif lainnya. Sayang sekali jika film-film yang di luncurkan selalu bernada mirip, tidak edukatif dan membangun, memotivasi biar lebih baik misalnya, jadi lebih rajin belajar atau juara dalam berbagai bidang, tidak melulu soal cinta yang harusnya hanya jadi bagian sangat kecil dari alam semesta yang luas membentang dengan segala jenis ilmu di dalamnya.
Semoga suatu hari nanti, film yang ditayangkan di prime time jauh lebih berinovasi untuk menjadikan anak-anak remaja lebih mawas diri, tidak terbuai oleh dongen semu kehidupan yang bikin mewek dan manja.
Meski tidak ahli dalam hal bikin film, setidaknya bolehlah mengeluarkan uneg-uneg, tidak bisa pula disebut resensi karena tidak sedalam itu. Sineton yang ingin saya komentari bukan sinetron kegemaran ibu-ibu rumah tangga tapi yang sekarang lagi hebohnya dengan singkatan-singkatan yang di sukai para remaja. Sinetron jenis ini awalnya saya pikir tidak mungkin melekat di hati pemirsa, secara sudah sangat tidak masuk akal. Dulu tayangan tv swasta kita dipenuhi sinetron penuh cinta abg, ada tokoh protagonis yang 'suka' di bully, ada pangeran penyelamat, lalu tokoh antagonis yang malah menguasai suasana. Seperti tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dilakukan anak-anak sekolah ini selain mengurusi sekelumit masalah cinta, berebut kekasih, berebut harta... oh no. Saya pikir ini adalah titik terendah jenis tontonan yang bisa disajikan, namun sekarang lebih payah, selain beberapa poin diatas sekarang di tambah dengan bumbu-bumbu di luar logika seperti tokoh-tokoh utama yang memiliki kemampuan gaib, kejedot sesuatu hingga mendapat kekuatan berubah. Okelah jika jadi power rangers, ini berubah menjadi beragam jenis hewan yang punya kekuatan...God.
Tidak tega rasanya membiarkan mata untuk menoleh pada tayangan jenis ini, tapi yang membingungkan mereka malah jadi tontonan favorit dengan rating tinggi, hingga tak cukup satu, sekarang malah film-film sejenis kian bertaburan di banyak channel. Mirisnya, anak-anak usia remaja yang sedang produktif dan kreatif malah menjadi sasaran utama menonton tayangan ini. Saya bingung, bukannya sinetron atau film itu bisa jadi bagian cerita naratif yang didalamnya mesti mengandung pesan moral, lebih banyak pesannya daripada hal teflalu imaginatif lainnya. Sayang sekali jika film-film yang di luncurkan selalu bernada mirip, tidak edukatif dan membangun, memotivasi biar lebih baik misalnya, jadi lebih rajin belajar atau juara dalam berbagai bidang, tidak melulu soal cinta yang harusnya hanya jadi bagian sangat kecil dari alam semesta yang luas membentang dengan segala jenis ilmu di dalamnya.
Semoga suatu hari nanti, film yang ditayangkan di prime time jauh lebih berinovasi untuk menjadikan anak-anak remaja lebih mawas diri, tidak terbuai oleh dongen semu kehidupan yang bikin mewek dan manja.
Subscribe to:
Posts (Atom)


